Life, News & OpinionsNovember 27, 2009 11:54 am

Di sebuah network maya Indonesia yang saya menjadi ahlinya seseorang menulis:

Dahulu kala, 20-30 tahun yang lalu, bangsa kita masih melihat bangsa asing sebagai sesuatu yang tinggi. Lulusan universitas asing dianggap/menganggap dirinya manusia setengah dewa. Perusahaan-perusahaan asing dianggap lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

Kini bisa jadi anggapan tersebut tidak terlalu berlaku lagi.

Superioritas kemakmuran?

Kini kemakmuran tidak identik dengan perusahaan asing/ lulusan universitas asing. Terlalu banyak contoh di negeri kita, manusia yang tidak lulusan universitas asing, bahkan banyak juga yang tidak menempuh pendidikan formal, dapat lebih makmur daripada yang lulusan universitas asing dan pekerja di perusahaan asing.

Yang terkenal contohnya : Aa Gym, KH. Zainuddin MZ., Yusuf Mansyur, Arifin Ilham, … dst … anggota DPR, anggota DPRD, … dst, … pengusaha2x otodidak yang sulit disebutkan satu persatu nama2x mereka.

Saya punya seorang paman; yang "cuma" lulusan STM. Tapi, kekayaan hartanya tidak kalah dengan seorang direktur perusahaan asing. (alhamdulillah beliau juga kaya hati)

Setiap ada acara keluarga, beliau selalu berpesan:

" … Gung, yang paling penting itu adalah `ilmu hidup`; ilmu kamu di kuliah itu paling cuma 5 persen berpengaruh di hidup kamu …"

Nasihatnya yang lain, disampaikan ketika kami olahraga pagi:

" … prinsip saya adalah membantu orang lain; kalau tidak bisa dengan uang, dengan tenaga. Kalau tidak bisa tenaga, dengan doa … "

Sulit mengatakan beliau sedang asal bunyi, mengingat beliau memang seorang yang sudah sangat berhasil dalam hal harta. (dan alhamdulillah juga kaya hati.)

Dan kita bersyukur, beberapa dekade terakhir ini manusia2x mulia seperti itu semakin banyak saja di negeri kita.

Superioritas keilmuan?

Selain masalah kemakmuran, lulusan universitas asing/ orang asing seolah juga identik dengan superioritas keilmuan. Sekali lagi, 20-30 tahun lalu, jika ada Ph.D dari universitas asing, identik dengan seseorang yang memiliki superioritas dibidang keilmuan.

Kini terlihat, hal itu sama sekali tidak menjamin.

Mari kita coba mulai dari kasus para sarjana yang dikirim ke universitas- universitas ternama dalam hal agama.

(Sebetulnya ini paradoks tersendiri : seseorang belajar agama kepada bukan ahli agama)

Ada seseorang (inisial : NM) belajar sampai Ph.D pemikiran Ibnu Taimiyyah, tapi dalam realitanya ia adalah penentang pemikiran Ibnu Taimiyyah. Begitu juga ada yang mempelajari Ikhwanul Muslimin (inisial : AR), tapi nilai2x Ikhwanul Muslimin gagal mengkristal dalam dirinya. Adapula yang belajar sejarah Indonesia untuk menjadi ahli sejarah Indonesia, tapi justru ketika pulang menjadi seseorang yang kelak mendistorsi sejarah Indonesia itu sendiri.

Justru, begitu banyak manusia2x mulia di negeri kita yang belajar Islam dan ilmu-ilmu sosial lain secara otodidak, akan tetapi menjadi ahli-ahli fiqh, politik islam, dan ahli sosial yang lebih fasih daripada mereka yang lama di luar negeri tapi pulang tidak lebih sebatas penyambung lidah para pemberi beasiswa.

Dalam hal sains juga serupa. Seorang Ph.D dalam hal fisika tidak menjamin ia memahami fisika. Ini dapat terlihat ketika begitu banyak Ph.D yang terkelabui dan bungkam seribu bahasa pada peristiwa runtuhnya 3 gedung WTC yang ditubruk oleh 2 pesawat di 11 September 2001.

Sementara para Ph.D bungkam seribu bahasa, begitu banyak mereka yang belajar fisika secara otodidak tetapi dapat memahami Hukum Fisika dibalik peristiwa 11 September 2001 tersebut.

————

Ironis memang, tidak sedikit para lulusan asing, tidak sedikit pula yang berasal dari universitas2x terbaik di dunia, yang justru tidak hanya membebani negara, tapi juga membebani keluarga. Pendidikan di luar negeri hanya mengajari yang bersangkutan untuk tinggi hati (baca:sombong) tanpa diikuti dengan harga diri yang meninggi. Semakin pintar menuntut, tapi semakin kikir untuk memberi.

Inilah ciri2x manusia yang berilmu tapi tidak berkah : bertambahnya ilmu tidak mengakibatkan kebaikan pada dirinya dan masyarakat.

LifeNovember 25, 2009 3:01 pm

1. Freedom from financial worries is when there is fund that could be used to generate resources to cover one’s basic expenses.

2. In layman life, financial freedom is also reached when there is a surplus of fund that could be used to cater for one’s ‘extra’ expenses such as vacation, home appliances, car, etc, and for more morally-guided ones, charities and philantrophic activities.

3. In Malaysia, according to analysts, not more than 5% of the population has reached financial freedom, not because they could not reach it, but because they never plan for it.

4. Those who plan took 20 years to reach the goal, but analysts say that with a bit of effort, discipline and luck, one can do it in 15 years.

How to achieve financial freedom?

1. Write it down

a. in diary, blog or notebook as to why you want to achieve it, (i.e. the intention) what to do once it is reached etc. For example, one aims to send his children to better school, perhaps to universities abroad. Or one like to do some visit either cultural or spiritual trips, or pure vacationing to enrich one’s life. Or to escape from one’s current boring career.

- persistent in writing the diary, once every few days perhaps, and write down inspirational ideas or quotes on a big board or piece of paper and hang it on a wall as a constant reminder.

b. frequently read what is being written.

2. Start saving.

a. start small. A hundred ringgit per month, and aims to increase by 5% in three months time. Do not simply rely on EPF.

b. avoid loans and debts as much as possible:

—car: A start-up could buy a good second hand car for RM4K-5K, instead of a brand new Proton or Perodua which would cost RM30K and over. Avoid old Malaysian car as the cost for maintenance will soon soar up. Go for old Japanese car.

—house: buy a house as soon as possible to avoid paying for rent. Servicing a house loan is better than paying rent because servicing the loan goes to increase ownership of the house. Do not go for government or conventional loan as it involves interest. Do not go for any Bai’ Bi Thaman Ajil (BBA) products – there are a lot of issues with it. Go for Musyarakah Mutanaqisah which is Islamic and would cost you more than 50% less than if you go for BBA.

—mobile phones: go for the basic phone unless there is a great need to be aggressively social.

c. save by buying during promotional period

- seriously I have bought flight tickets, hotel rooms etc costing almost next to nothing.

- it is also worth considering to sign up with frequent flyer programmes, hotel clubs (IPrefer, SPG, A-Club, Priority etc.), and other loyalty programmes if travelling a lot. Alternatively, consider timeshare programmes.

- those in the UK could also make use of cashback websites such as TopCashBack and Quidco to get cashback on puchases. I have been a regular user of Quidco and satisfies with cashback I received for buying flights and accommodations.

3. Start investing

- investment should be made consistently monthly.

- being passive investor would be OK as long as one invest a lot.

- if intending to be an aggressive, active investor, remember the Two Days rule: if the US market goes down/up, we in Malaysia have two days before our market behaves correspondingly. This would help greatly when making decision to sell or buy. 

LifeNovember 18, 2009 3:16 pm

1. Semasa saya mengaji semasa kecil dahulu, bila tok guru mengatakan antara sifat Wahabi itu adalah mengkafirkan orang dengan sewenang-wenangnya, saya terima tanpa percaya.

2. Kemudiannya, saya sendiri pernah dikafirkan Wahabi, lalu membuatkan kenyataan tok guru itu menjadi kepercayaan.

3. Ketika saya menyampaikan berita saya dikafirkan Wahabi itu kepada seorang tuan guru yang lain, beliau berkata, ‘Sesiapa yang menjalani Jalan ini suatu hari nanti pasti akan menerimanya (i.e. dikafirkan oleh Wahabi)’.

4. Wahabi mengkafirkan saya apabila saya bersama-sama rakan-rakan yang lain dalam Islamic Society di Wales menganjurkan program Winter Retreat untuk membaca kitab Habib Mashhur al-Haddad. Wahabi Cardiff tanpa menghubungi saya dan rakan-rakan kemudiannya telah menyebarkan surat melalui email dan poster di masjid-masjid Cardiff menyuruh supaya orang ramai boikot acara yang dikatakannya sesat dan membawa kepada kekufuran. Saya sangat terkejut apabila hanya mengetahui mengenainya melalui seorang rakan yang lain. Apatah lagi orang yang menulis surat itu beristerikan seorang wanita Malaysia. Saya menyimpan emel dan surat itu sebagai buah tangan yang busuk daripada Wahabi Cardiff.

5. Saya pernah melawat Albania dan di sebuah kota kecil bernama Elbasan, saya disapa seorang pemuda semasa sedang menunggu keretapi. Pemuda itu memberi salam. Apabila saya menjawab salamnya, ia bertanya apakah saya seorang Muslim. Saya menyatakan ya. Ia kemudian berkata, ‘Saya juga fikir begitu, tetapi merasa sangsi bila melihat seluar awak,’ [I thought so but have doubt when I saw your trousers], sambil mengerling ke kaki seluar saya. Yang dimaksudkannya ialah seluar saya yang melebihi paras buku lali. Saya senyum dan kemudian mendiamkan diri. Sepanjang perjalanan di atas keretapi, terngiang-ngiang perkataannya. Rupanya rakan sepermusafiran saya yang dari tadi senyap juga terasa membuku di dada. Darah aku mendidih, jujur pengakuannya. Saya katakan kepadanya, ‘Nah, inilah tujuan musafir ini. Jika aku berbohong sepanjang usrah kita, maka kejadian inilah saksi itu.’ [i.e. tentang sifat dan perangai Wahabi].

6. Saya amat benci untuk menulis mengenai Wahabi kerana tiap-tiap kali menulis mengenainya perkara-perkara seperti di atas akan terulang tayang. Tetapi saya juga berasa amat benci melihat tindak tanduk orang Wahabi yang terlalu memandang rendah pada orang lain.

7. Di surau taman kami ini, orang Wahabinya tidak pernah mahu bersalam selepas solat seperti yang lain. Tidak sunnah. Yang sunnah ialah segera solat sunat. Ia tidak mahu berdoa beramai-ramai. Tidak mahu duduk mendengar tazkirah orang lain. Tetapi jika ia menjadi Imam, ia segera pula memberikan tazkirah sebaik sahaja selepas memberi salam ke kiri dan ke kanan. Tidak timbul pula isu solat sunat? Sudah tentu ia mahu orang lain duduk tenang mendengar tazkirahnya, tetapi kenapa ia sendiri tidak betah mendengar tazkirah orang lain?

8. Tentunya perangai dalam #7 di atas boleh sahaja dilakukan oleh yang bukan Wahabi. Ia, samada yang melakukannya adalah Wahabi atau bukan, bukanlah isunya.

9. Yang lebih jelek lagi ialah isi kandungan tegurannya itu, yang jelas tidak mengendahkan pegangan mazhab Syafii yang dipakai kariah masjid. Cuma untungnya ia, kariah disini amt berlapang dada. Mendengar tazkirahnya dengan senyum dan tidak berkutik atau mengomel apapun. Mereka senang mengingat-ingat kata-kata tempatan, ‘kalau salah, kandar ke diri!’ 

LifeNovember 10, 2009 8:48 am

Since coming back to Malaysia a few years ago, I have subscribed, found or been introduced to several magazines that are interesting and could be recommended:

1. al-Kisah , an Indonesian religious magazine with strong Ba’Alawi influence. Each copy always come with freebies – CD/DVDs, prayer booklet and, best of all, pictures of scholars.

2. Asian Geographic , a Singapore-based magazine akin to National Geographic and Geographic magazines, but with focus on the continent.

3. Forward , a KL-based magazine produced by the same publishing house that publish Milenia Muslim. This I hope will flourish into the closest to Islamica or Q-News magazines that we Malaysians could get.

4. Halal Journal , also a KL-based magazine, with plenty news and stories on the halal concept, featuring articles not only of foods, but also halal economy, halal politics, halal sports, halal travel, halal fashion, halal science etc.

5. Heritage Asia, a magazine published by MPH Group with strong link to Badan Warisan Malaysia. The featured articles are not confined to what Malaysiana stories but cut across many cultures of Asia.

6. Malaysian Business, a Malaysian magazine that I have only recently pick up to read following the recent economic turn down. Pretty simple and easy read for non-economist like me.

7. Milenia Muslim, another Malaysian magazine that I have continuously bought every single month after my first copy in Jan 2008. It covers many good issues very well and has found a niche among Malaysian universities students.

8. Saudi Aramco World is a Saudi-based magazine published by a petro company there. I have been reading this magazine since secondary school. Since they open online request for subscription three years ago, I have made two subscription, one for myself, and the other one for folks at kampung. So far, no issue has ever failed to impress me.

There are a couple more magazines but this should do for now. Perhaps you could already sense, after looking at this short listing, that I am, after all, not a science man at all!! 

LifeOctober 17, 2009 7:49 am

Look out for the majlis near your place; schedule is out at alhawi.net. Last year I went to the majlis at Ribath Muar. This year I am going to the one in Geliga, Chukai, insya-Allah. I might be going to the majalis in KL too but am not too sure yet about it.

IKIM.fm aired a nice session on the life of Imam Abdullah al-Haddad just now at 12 noon. Kudos to IKIM.fm.

There is a book by S. Mostafa Badawi, Sufi Sage of Arabia, which has received good recommendation by English readers including S. Abdul Aziz Ahmad Frederickes, which could help enlighten us on the life of the Imam.

The works of this exemplary figure are known throughout the world for their effectiveness, simplicity and adherence to the principles of tasawwuf set by the Hujjatul Islam, al-Ghazali.